Rinitis alergi adalah peradangan pada selaput lendir hidung yang dipicu oleh reaksi sistem imun terhadap zat tertentu (alergen). Berbeda dengan flu biasa, rinitis alergi tidak disebabkan virus dan bisa berulang sepanjang tahun.
Gejala Khas
Empat gejala utama yang perlu dikenali pasien:
- Bersin berulang (5–10 kali berturut-turut), terutama pagi hari atau saat terpapar alergen
- Hidung tersumbat dan ingus encer jernih (bukan kuning kehijauan seperti infeksi)
- Hidung gatal, sering disertai gatal pada langit-langit, telinga bagian dalam, atau mata
- Mata berair dan kemerahan (rinitis alergi sering disertai konjungtivitis alergi)
Penyebab & Pemicu
Alergen yang paling sering ditemukan pada pasien Indonesia:
- Tungau debu rumah (paling dominan — 60-80% kasus)
- Bulu hewan peliharaan (kucing, anjing)
- Kecoa dan jamur indoor (ruangan lembap)
- Serbuk sari (lebih jarang di iklim tropis)
- Asap rokok, polusi, perubahan suhu mendadak
Klasifikasi (ARIA Guideline)
Berdasarkan durasi dan dampak terhadap aktivitas:
- Intermiten: gejala < 4 hari/minggu atau < 4 minggu/tahun
- Persisten: gejala > 4 hari/minggu dan > 4 minggu/tahun
- Ringan: tidur normal, aktivitas tidak terganggu
- Sedang-berat: tidur terganggu, aktivitas/sekolah/kerja terganggu
Diagnosis di Klinik THT
Diagnosis ditegakkan dari kombinasi:
- Anamnesis terstruktur — pola gejala, pemicu, riwayat alergi keluarga
- Pemeriksaan rinoskopi anterior — selaput hidung pucat-kebiruan, edema
- Tes alergi bila perlu: skin prick test atau IgE spesifik darah
Tatalaksana — 4 Pilar
1. Penghindaran Alergen (Avoidance)
- Sprei & sarung bantal dicuci air panas (>60°C) tiap minggu
- Vacuum dengan filter HEPA, hindari karpet di kamar tidur
- Anti-tungau cover untuk kasur dan bantal
- Hindari boneka kain di kamar tidur anak
2. Antihistamin
- Antihistamin generasi 2 (cetirizine, loratadine, fexofenadine) — non-sedatif
- Diminum 1× sehari, bisa kontinu untuk gejala persisten
- Hindari antihistamin generasi 1 (CTM) — bikin mengantuk dan bisa kering selaput lendir
3. Kortikosteroid Topikal Hidung
- Mometasone, fluticasone, budesonide — semprotan hidung
- Lini pertama untuk gejala sedang-berat
- Mulai bekerja dalam 12–24 jam, efek penuh setelah 1–2 minggu pemakaian rutin
- Aman untuk pemakaian jangka panjang dalam dosis terapi
4. Imunoterapi (Desensitisasi)
- Untuk pasien yang gagal dengan terapi medikamentosa
- Pemberian alergen bertingkat untuk membangun toleransi
- Durasi 3–5 tahun, hasil bertahan jangka panjang
- Membutuhkan supervisi konsultan alergi-imunologi
Kapan ke spesialis THT?
Bila gejala bertahan >4 minggu, mengganggu tidur/sekolah/kerja, tidak respon dengan antihistamin biasa, atau dicurigai komplikasi (sinusitis, polip hidung, asma).
Komplikasi Bila Tidak Ditangani
- Sinusitis kronis — sumbatan ostium sinus berulang
- Polip hidung — pertumbuhan jaringan akibat inflamasi kronis
- Asma — "satu jalan napas, satu penyakit" (united airway disease)
- Otitis media efusi pada anak — gangguan pendengaran
- Gangguan tidur, snoring, sleep apnea