Tonsilektomi (operasi amandel) adalah tindakan pengangkatan tonsil palatina — sepasang kelenjar getah bening di belakang tenggorokan. Operasi ini bukan keputusan ringan; ada kriteria medis ketat sebelum dianjurkan.
Apa Fungsi Amandel?
Amandel berperan sebagai bagian sistem imun mulut — menangkap kuman yang masuk lewat udara dan makanan. Pada anak kecil, amandel relatif besar karena aktif "berlatih" mengenali patogen. Setelah usia 7–10 tahun, ukurannya menyusut alami seiring fungsi imun yang dialihkan ke organ lain.
Karena fungsi imun bisa dikompensasi, mengangkat amandel tidak melemahkan imunitas jangka panjang.
Indikasi Operasi (Wajib Tahu)
1. Tonsilitis Berulang — Kriteria Paradise
Indikasi paling umum. Operasi dianjurkan bila pasien mengalami:
- ≥7 episode tonsilitis dalam 1 tahun, ATAU
- ≥5 episode/tahun dalam 2 tahun berturut-turut, ATAU
- ≥3 episode/tahun dalam 3 tahun berturut-turut
Setiap episode harus didokumentasikan: demam >38.3°C, eksudat purulen, pembesaran kelenjar leher, atau swab streptokokus positif.
2. Sleep Apnea Obstruktif Anak (OSA)
Pada anak, amandel besar (grade 3–4) yang menyumbat jalan napas saat tidur. Tanda yang perlu diwaspadai:
- Mendengkur keras setiap malam
- Henti napas saat tidur (sleep apnea), terlihat orang tua
- Tidur gelisah, ngompol, atau sering bangun
- Mengantuk siang hari, prestasi sekolah turun
- Tumbuh kembang tertinggal (gagal tumbuh)
3. Abses Peritonsillar Berulang
Komplikasi tonsilitis berupa nanah di sekitar amandel. Bila terjadi 2× atau lebih, tonsilektomi dianjurkan untuk mencegah kekambuhan.
4. Kecurigaan Keganasan (Dewasa)
Pembesaran tonsil asimetris (satu sisi lebih besar) pada dewasa, terutama disertai luka tidak sembuh, perlu evaluasi keganasan.
5. Indikasi Lain
- Bau mulut kronik akibat batu amandel (tonsillolith) yang tidak respon terapi konservatif
- Gangguan menelan persisten karena tonsil hipertrofi
- Tonsilitis kronis dengan demam berulang >6 bulan
Persiapan Sebelum Operasi
- Pemeriksaan darah lengkap, masa perdarahan/pembekuan
- Konsultasi dokter anestesi (1–2 hari sebelum operasi)
- Puasa 6–8 jam sebelum operasi
- Tidak sedang infeksi akut (tunda bila demam atau radang aktif)
- Hindari aspirin/ibuprofen 1 minggu sebelum operasi
Prosedur Operasi
Operasi dilakukan dengan anestesi umum (pasien tertidur), durasi 30–45 menit. Teknik yang umum digunakan:
- Cold steel dissection — pengangkatan dengan instrumen tajam, pendarahan minimal
- Coblation/Diathermy — pengangkatan dengan energi radiofrekuensi, lebih cepat sembuh
Setelah operasi, pasien observasi 4–6 jam atau 1 malam tergantung kondisi. Anak biasanya rawat inap 1 malam, dewasa bisa rawat jalan.
Masa Pemulihan
Hari 1–3 (Akut)
- Nyeri tenggorokan signifikan — kontrol dengan paracetamol terjadwal
- Diet lunak dingin: es krim, jeli, bubur dingin, yogurt
- Banyak minum air putih dingin
- Hindari makanan asam, pedas, panas, dan keras
Hari 4–7
- Lapisan putih (eskar) terbentuk di area operasi — normal, jangan dikorek
- Nyeri telinga pantulan (referred ear pain) — bukan infeksi telinga
- Mulai diet lunak hangat: nasi tim, sup, kentang lembut
- Tetap aktivitas ringan di rumah
Hari 7–14
- Eskar mulai terlepas — mungkin ada sedikit perdarahan, biasanya berhenti sendiri
- Kontrol pertama dengan dokter THT
- Diet bertahap kembali normal
- Hindari aktivitas berat dan olahraga 2 minggu
⚠️ Tanda bahaya pasca operasi — segera ke IGD:
Perdarahan aktif (muntah darah segar), demam >38.5°C tidak turun, nyeri tidak terkontrol meski sudah obat, atau dehidrasi (tidak bisa minum).
Komplikasi (Risiko Rendah Bila Ditangani Tim Berpengalaman)
- Perdarahan pasca operasi (1–3% kasus) — paling sering hari ke 5–10
- Reaksi anestesi
- Dehidrasi karena nyeri menelan
- Infeksi luka operasi (jarang)
Apakah Bisa BPJS?
Ya. Tonsilektomi dengan indikasi medis terdokumentasi dapat ditanggung BPJS dengan rujukan dari Faskes Primer (Puskesmas/Klinik). Konsultasi dengan tim admin RSND untuk alur pendaftaran.
Pertanyaan yang sering ditanyakan:
Q: Setelah operasi, apakah masih bisa kena radang tenggorokan?
A: Bisa, tapi frekuensi dan beratnya turun drastis. Faringitis (radang tenggorokan tanpa amandel) tetap mungkin terjadi.